batkid on the wrong place
No name
NO NAME
Pagi ini aku bangun dengan perasaan gelisah diantara jaring laba-laba yang merambat di ruangan persegi seluas 3x3 yang aku sebut dengan “kamar”. Bau shubuh yang khas menusuk hidungku yang telah divonis ibuku sendiri mengidap sinusitis atau apalah namanya. Aku ambil air wudhu dengan perasaan menggigil diantara kamar-kamar yang masih terlelap dengan mimpi mesum mereka masing-masing . Selesai ibadah kucoba memejamkan mataku sejenak sebelum kegiatan membosankan yang terus membacakan teori formalitas dan kompleksitas absensi yang mereka sebut dengan kuliah dimulai. Kupejamkan mata dan sejenak berpikir sudah 11 bulan aku hidup di kota ini di lingkungan yang baru ini, tapi apakah diriku sekarang adalah diriku yang kuinginkan 11 bulan yang lalu? Tidak sama sekali, 11 bulan yang lalu aku membayangkan sosok atletis dengan IP diatas 3 yang setidaknya telah berganti status dari jomblo menjadi agak jomblo. Aku yang sekarang justru bingung tentang apa yang aku lakukan, aku nyaris tanpa tujuan disini. Padahal aku 11 bulan yang lalu adalah sosok ambisius yang mencoba merubah pandangan orang tentang dirinya sendiri. Ambisi itu luntur dengan sendirinya entah karena waktu atau itu memang hanya sebatas ambisi. Saat mandi pun lamunan itu terus mengikutiku walaupun aku telah berusaha mengusirnya dengan imaji-imaji girlband yang mengenakan seragam tentara dan membawa busur panah tak terlihat. Aku pun masih mencari kata-kata itu. Kata yang biasa mereka sebutkan di tiap bait lagu dan dialog sinetron tentang anak tiri berpakaian seksi. Aku pun penasaran mungkin kata-kata itu terselip diantara batang-batang korosif yang ada dalam bungkus menarik di seragam kuliahku , maka aku bakar mereka satu persatu dengan harapan asap yang menghasilkan dopamine dapat membantuku melupakan semua sakit hati ini. Mungkin aku terlalu bodoh untuk cinta, dan bahkan aku tidak pandai dalam apapun. Dada ini ingin berteriak, orang bodoh pun butuh cinta (walaupun tidak semuanya pantas mendapatkan cinta). Cinta, aku bahkan hampir tidak mencintai hidupku sendiri, mungkin aku mencintai keluargaku, tapi tidak dengan yang lain. Aku tidak mencintai mikroekonomi, aku tidak mencintai bagaimana sederet negative menangkap cahaya atau bahkan ketika isi rok ha ji won yang tersebak membuat eunsik tersedak. Aku sadar bahwa ada banyak cinta di dunia. Cinta harta, cinta kekuasaan, cinta akan Tuhan, cinta akan sejenis, dan bahkan cinta bohongan yang biasa disebut dengan kontrak
My desk, some year ago





